Halaman Detail Berita

ANALISIS ISU GENDER DAN ANAK DI DIY 2017
Kamis, 06 Juli 2017    Berita

Dalam rangka Update Data Gender dan Anak di DIY serta penyediaan informasi terkait kondisi kesenjangan Gender dan Pemenuhan hak anak, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat menyelenggarakan FGD Analisis Isu Gender dan Anak Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2017 yang dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2017 bertempat di ruang rapat BPPM DIY.

Rapat tersebut di hadiri berbagai pihak instansi Pemerintah Daerah diantaranya Dinas Sosial DIY, Bapel Jamkesos DIY,Kanwil Kemenag DIY, Kanwil Hukum dan HAM DIY serta Rumah Sakit, Kepolisian dan LSM Peduli Perempuan dan Anak di Yogyakarta.

 Dalam acara tersebut mengupas tuntas mengenai “Strategi pengarusutamaan gender dalam pembangunan”. Strategi tersebut adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari semua kegiatan fungsional semua instansi baik di tingkat pusat maupun Daerah. Peraturan pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan, yang telah di tindak lanjuti dengan Perda 7 tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menjadi salah satu urusan wajib yang harus diselenggarakan oleh pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Dalam upaya meningkatkan peran dan kualitas perempuan serta upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, diperlukan ketersediaan data pilah yang selalu uptodate. Untuk memperkuat posisi penyelenggaraan data gender dan anak di DIY, dikeluarkanlah peraturan Gubernur DIY Nomor 53 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Data Gender dan Anak. Yang memberikan pedoman penyelenggaraan data dan format data.

Sebagai langkah pengembangan dari data terpilah gender dan anak yang sudah di kompilasi, juga dilakukan analisis isu-isu gender dari masing-masing bidang, kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, ketenagakerjaan serta perlindungan perempuan dan anak.

Korban dan Pelaku dalam Angka Berdasarkan Jenis Kelamin (FPKK DIY)

Tanpa disadari, Indonesia saat ini berada dalam situasi perang Generasi ke IV (G-IV). Disebut sebagai G-IV karena perang ini tidak lagi mengandalkan kekuatan militer (hardpower), tetapi senjata nonmiliter (softpower) yang antara lain meliputi penghancuran budaya, ekonomi, perusakan moral generasi masa depan bangsa. Adapun perang-perang sebelumnya yang menjadi trend pada saat itu antara lain perang Generasi I (G-I) yaitu perang tradisional sebagai contoh perang Bharatayudha. Perang Generasi ke II ( G-II) perang kota. Selanjutnya perang Generasi III (G-III) perang dalam skala modern dengan menggunakan pengerahan senjata militer secara penuh, seperti halnya Perang Dunia I atau Perang Dunia II.

Lembaga Pelindungan Anak DIY mencatat kenaikan kasus kekerasan kepada anak,baik kekerasan seksual maupun fisik secara umum. Pada tahun 2014-2015 tercatat 398 anak mengalami tindakan kekerasan diantaranya :

Di YLPA (Yayasan Lembaga Perlindungan Anak) DIY sudah banyak sekali laporan permintaan bantuan hukum maupun pendampingan perkara perdata yang membawa anak sebagai korbanya, mereka perlu mendapat bantuan hukum. Dengan demikian bantuan hukum pada anak sudah selayaknya mendapat perhatian yang serius karena bagaimanapun anak-anak ini adalah masa depan suatu bangsa.

Pada kasus lain saat ini banyak banyak kekerasan yang dialami oleh anak remaja dengan berbagai jenis dan bentuk. Kekerasan fisik terkini menggunakan modus yang semakin bervariasi, misalnya penggunaan senjata yang senantiasa berubah karena di perbaharui dari waktu ke waktu. Pentungan, clurit, pedang, gir sepeda motor yang dilengkapi dengan tali pelontar/ ikat pinggang, ketapel, panah, double stick merupakan contoh senjata tajam yang sering ditemukan dalam razia senjata di sekolah-sekolah. Menjadi persoalan menarik ketika pelajar yang dikontruksikan sebagai insan terdidik, justru mereproduksi kekerasan dengan menggunakan senjata.

Berdasarkan data Polda DIY, setidaknya terdapat 79 geng pelajar di DIY. Besarnya jumlah geng pelajar di Yogyakarta menunjukkan bahwa geng pelajar masih saja diawetkan oleh para pelajar baik senior, junior maupun alumni.

Hasil Penelitian YLPA Provinsi DIY pada Deskripsi Perilaku Agresif geng remaja terhadap 60 orang responden yang terlibat tawuran dan berhadapan dengan hukum sebagai berikut :

Umur responden

a. 11-14 tahun 6,7%(4 orang)

b. 15-16 tahun 93% (56 orang)

Ditinjau dari umur 93 % adalah remaja secara biologis pada masa pertumbuhan otak. Pada masa dalam diri remaja krisis identitas, perasaan cemas dan tidak puas terutama hubungan dengan orang tua.

Lama bergabung dalam geng remaja

a. Kurang dari 1 tahun 26,6% (16 orang)

b. 1 tahun 20% (32 orang)

c. Lebih dari 1 tahun 53,3% (32 orang)

Pada masa remaja memiliki motivasi yang kuat berkumpul dengan teman sebaya.

Bentuk perilaku agresif fisik yang dilakukan anggota geng remaja

  1. Berkelahi 50% (30 orang)
  2. Mebunuh 10% (6 orang)
  3. Menyerang/ bals dendam 26,7% (16 orang)
  4. Meghukum/ melukai 13,3% (8 orang)

Hasil Analisis : Anak frustasi minum minuman keras, narkoba. Karena keluarga bermasalah dan orang tua tidak perduli pada anak.

· Bentuk perilaku agresif verbal yang dilakukan anggota geng remaja

a. Mengancam 41,7% (25 orang)

b. Menghina 21,7% (13 orang )

c. Mengutuk 16,7% (10 orang)

d. Menyalahkan orang lain 5% (3 orang)

e. Mengkritik 11,7% (7 orang)

f. Membentak/berbicara kasar 3,3% (2 orang)

Hasil Analisis :

- Dinamika hubungan, keluarga masyarakat menjadi longgar,tumbuhnya sikap individualistis, kompetitif, materialistic.

 - Anak berusaha mencari jati diri, merasa tidak mendapat penghargaan positif dari keluarga/lingkungan, berdampak tidak mampu menghargai dirinya sendiri.

· Ungkapan perasaan setelah bertindak agresif

a. Puas karena dapat melampiaskan marah 28,30% (17 orang)

b. Bangga dapat terlihat hebat 26,70% (16 orang)

c. Takut karena sudah melakukan tindakan criminal 1% (9 orang)

d. Senang karena diakui oleh teman sebaya 10% (6 orang)

e. Tidak perduli yang penting solidaritas teman 8,30% (5 orang)

f. Menyesal sudah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma sosial 11,70% (7 orang)

 Alasan anggota geng melakukan

a. Mendapat pengakuan dari anggota geng 25%(15 orang)

b. Agar dapat dilihat berpengaruh dalam geng 23,3% (14 orang)

c. Agar dapat terlihat lebih hebat 28,3% (17 orang)

d. Memperoleh jabatan dalam geng 20% (12 orang)

· Pihak yang mengajak bergabung

 a. Teman rumah 3,3% (2 orang)

b. Teman sekolah 68,3% (41 orang)

c. Teman lingkungan lain 23,4% (14 orang)

d. Teman yang memiliki hoby yang sama 5% (3 orang)

Hasil Analisis : 68,3% yang mengajak bergabung adalah teman sekolah, alumni sekolah masih memiliki peran dalam geng sekolah.

 

Hasil keseluruhan dari analisis diatas adalah masa pertumbuhan anak /remaja akan terjadi krisis identitas, kehilangan jati diri, terpaan informasi, lingkungan heterogen tanpa pendampingan dan dukungan sosial hingga menjadi frustasi. Pendampingan orang-orang terdekat dan juga penguatan psikologi sangat dibutuhkan dalam hal ini agar anak diversi benar-benar tidak mengulangi perbuatannya kembali.

Pada remaja pendidikan “Menjadi Orangtua” juga perlu dilakukan mengingat saat ini trend pernikahan dini dan kasus-kasus kehamilan di usia muda bahkan hamil di luar pernikahan sangat merajalela. Sehingga pendidikan ini dapat membantu menambah pengetahuan bagi para remaja.

Kedekatan remaja dengan orangtua / keluarga sangat menentukan perilaku/sikap remaja untuk berminat / tidak menjalin relasi dengan teman sebaya dalam geng remaja. 

sumber gabar karikatur : https://blogs.psychcentral.com


Dokumen :

Sumber: Jamkesos (dsf, alf, gs)

Balai Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (Bapel Jamkesos)  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  adalah Unit Pelaksana  Teknis  Dinas Kesehatan  Daerah  Istimewa Yogyakarta  (DIY)  yang  bertugas menyelenggarakan kegiatan jaminan kesehatan bagi  masyarakat  DIY.

STATISTIK PENGUNJUNG

Hari Ini18
Kemarin58
Bulan Ini691
Total10625